Pernah kepikiran bikin website atau aplikasi sendiri, tapi langsung ciut begitu dengar kata coding? Kamu nggak sendirian.
Banyak orang punya ide bagus, tapi terhambat karena merasa coding itu rumit dan butuh waktu lama. Nah, di sinilah low code platform hadir sebagai jalan tengah untuk membuat website & aplikasi yang ramah untuk pemula.
Di artikel ini akan membahas low code platform; mulai dari pengertian, contoh penggunaan kelebihan dan kekurangannya.
Daftar Isi Artikel
ToggleApa Itu Low Code Platform?
Low code platform adalah tools atau platform pengembangan yang memungkinkan kamu membuat website, aplikasi, atau sistem digital dengan sedikit coding, bahkan hampir tanpa coding sama sekali. Mayoritas prosesnya dilakukan lewat visual editor, drag-and-drop, dan pengaturan workflow.
Anggap saja low code ini seperti jalan pintas. Kamu tetap paham alurnya, tapi nggak perlu menulis semua baris kode dari nol.
Bedanya Low Code vs No Code
Bayangkan kamu mau masak,
- No code itu seperti pakai rice cooker: tinggal pencet tombol, jadi. Praktis, tapi opsinya terbatas.
- Low code itu seperti masak pakai kompor + bumbu instan: masih mudah, tapi kamu bisa atur rasa sesuai kebutuhan.
- Full coding? Itu masak dari bahan mentah, bikin bumbu sendiri, bebas, tapi butuh skill dan waktu.
Jadi, low code cocok buat kamu yang mau cepat jalan, tapi tetap fleksibel.
Low Code Platform Bisa Dipakai Buat Apa?
Low code bukan cuma buat “coba-coba”. Banyak kebutuhan real yang bisa diselesaikan dengan platform ini.
1. Landing Page & Website Sederhana
Kamu bisa bikin landing page, company profile, atau microsite tanpa harus pusing ngoding. Bahkan banyak orang memulainya dari platform seperti WordPress. Platform ini bisa jadi salah satu opsi yang menarik untuk menjadi bahan belajar cara membuat website tanpa coding.
2. Form Lead & Otomatisasi Follow-Up
Low code sering dipakai untuk bikin form pendaftaran, form leads, lalu disambungkan ke email marketing atau WhatsApp automation. Jadi, habis user isi form, sistem langsung jalan sendiri.
3. Dashboard Laporan Sederhana
Butuh dashboard untuk lihat data penjualan, leads, atau performa kampanye? Low code bisa bantu menampilkan data dalam bentuk tabel atau grafik tanpa ribet.
4. Aplikasi internal (approval, tracking, inventory)
Banyak tim pakai low code buat aplikasi internal seperti approval cuti, tracking project, atau inventory sederhana, cepat jadi, nggak perlu nunggu developer lama.
Cara Kerja Low Code Platform (Versi Pemula)
Biar kebayang cara kerja low code platform, ini gambaran umumnya.
1. Komponen Drag-and-Drop (blok lego)
Low code biasanya pakai komponen visual: tombol, form, tabel, teks. Kamu tinggal susun seperti main lego. Nggak perlu mikir syntax dulu.
2. Workflow/Automation (alur “kalau ini, maka itu”)
Misalnya:
“Kalau user submit form → simpan data → kirim email otomatis.”
Semua diatur lewat flow visual, bukan barisan kode panjang.
3. Integrasi Terhubung ke Platform Lain
Low code memudahkan integrasi dengan tools lain seperti Google Sheets, CRM, email marketing, atau payment gateway, tinggal klik dan setting.
Kelebihan dan Kekurangan Low Code

Sebelum mulai menggunakan low code platform, penting untuk memahami plus-minusnya secara realistis agar sesuai dengan kebutuhanmu.
Kelebihan Low Code Platform
- Cepat dikembangkan: Proses pembuatan website atau aplikasi bisa jauh lebih singkat dibanding coding dari nol.
- Mudah digunakan: Interface visual dan fitur drag-and-drop memudahkan pemula untuk mulai membangun sistem digital.
- Maintenance lebih ringan: Update dan perbaikan biasanya lebih simpel karena sudah ditangani oleh platform penyedia.
Kekurangan Low Code Platform
- Batas kustomisasi: Desain dan fitur sering kali dibatasi oleh kemampuan platform yang digunakan.
- Biaya berlangganan: Beberapa low code platform menerapkan biaya bulanan atau tahunan yang perlu diperhitungkan.
- Risiko vendor lock-in: Data dan sistem bisa bergantung pada satu platform, sehingga sulit dipindahkan ke solusi lain.
Cara Memilih Low Code Platform yang Tepat
Biar nggak salah pilih, perhatikan beberapa hal dalam memilih low code plaform yang tepat.
1. Tentukan Tujuan (Website vs App vs Automation)
Mau bikin landing page, aplikasi internal, atau sistem automation? Tiap platform punya fokus dan tujuan berbeda.
2. Cek Integrasi yang Kamu Butuhkan
Pastikan platform bisa terhubung dengan tools yang sudah kamu pakai.
3. Pertimbangkan Biaya & Scaling
Awalnya murah, tapi gimana kalau user makin banyak? Cek skema harga sejak awal.
4. Perhatikan Keamanan & Akses Data
Ini penting, terutama kalau menyangkut data bisnis atau pelanggan.
Kapan Kamu Sebaiknya Belajar Coding Juga?
Low code berfungsi sebagai alternatif yang memudahkan pemula saat belajar dunia coding, dan bukan berarti pengganti total coding.
- Kalau butuh fitur unik & kompleks: Fitur custom yang sangat spesifik biasanya lebih fleksibel kalau dibuat dengan coding.
- Kalau traffic tinggi & performa kritikal: Website atau aplikasi dengan traffic besar butuh optimasi yang sering kali hanya bisa dilakukan lewat coding.
- Kalau butuh kontrol penuh atas data dan sistem: Dengan coding, kamu punya kontrol penuh. Kalau tertarik mulai dari dasar, kamu bisa cek panduan belajar coding dari nol.
Mulai Belajar Low Code Bareng ITBOX
Low code itu bukan “jalan pintas”, tetapi strategi cerdas agar kerja lebih efisien. Dan kabar baiknya, kamu bisa mulai tanpa background teknis yang ribet.
Kalau kamu ingin langsung praktik, ITBOX punya program yang cocok untuk pemula, seperti Kelas Landing Page, untuk kamu yang mau langsung bikin website dan funnel marketing, serta Kursus Digital Marketing buat kamu yang ingin paham ekosistem digital secara menyeluruh.
Kami di ITBOX siap menemani kamu naik level, dari yang awalnya takut coding hingga jadi lebih percaya diri di dunia digital.
FAQ Seputar Low Code Platform
1. Low code itu sama nggak dengan no code?
Nggak sama. No code hampir tanpa coding sama sekali, sedangkan low code masih memberi ruang sedikit coding untuk kustomisasi.
2. Apakah low code bisa bikin website tanpa coding sama sekali?
Bisa, untuk kebutuhan dasar. Tapi untuk fitur tertentu, sedikit coding kadang tetap dibutuhkan.
3. Apakah low code aman untuk data bisnis?
Aman selama kamu memilih platform terpercaya dan memperhatikan pengaturan akses serta keamanan data.
4. Low code cocok untuk pemula yang “gaptek”?
Cocok, asalkan mau belajar pelan-pelan. Interface-nya biasanya ramah pemula.
5. Apa risiko terbesar kalau mengandalkan low code?
Ketergantungan pada platform (vendor lock-in) dan keterbatasan fitur jika kebutuhan kamu makin kompleks.


