Membangun layanan digital dulu selalu diawali dengan menyiapkan server, mengatur kapasitasnya, lalu merawatnya sepanjang waktu. Kini banyak startup memilih pendekatan berbeda yang memungkinkan tim menjalankan kode tanpa perlu mengurus server sama sekali. Pendekatan ini dikenal sebagai serverless computing, dan adopsinya terus bertambah di kalangan tim kecil.
Kendalanya, istilah serverless sering disalahpahami seolah berarti tidak ada server sama sekali. Padahal servernya tetap ada, hanya saja pengelolaannya berpindah ke penyedia layanan. Pembahasan berikut menguraikan pengertian serverless computing, konsep dasarnya, jenis layanannya, sampai cara mempelajarinya.
Daftar Isi Artikel
ToggleApa Itu Serverless Computing?
Serverless computing adalah model menjalankan kode di mana penyedia layanan mengatur seluruh infrastruktur server, sehingga pengembang cukup fokus pada logika aplikasinya. Sumber daya dialokasikan otomatis saat kode dijalankan lalu dilepas kembali setelah selesai.
Perlu diluruskan, serverless bukan berarti benar-benar tanpa server. Server tetap bekerja di balik layar, hanya saja urusan penyediaan, penskalaan, dan perawatannya diambil alih penyedia layanan. Contohnya, sebuah fungsi pengirim notifikasi yang hanya berjalan saat ada pesanan masuk, tanpa perlu server yang menyala sepanjang hari.
Cara Memahami Serverless dengan Sederhana
Banyak orang menganggap serverless rumit, padahal konsepnya menyerupai memakai jasa transportasi daring dibanding memiliki kendaraan sendiri. Memiliki kendaraan berarti menanggung perawatan, bahan bakar, dan tempat parkir meski kendaraannya jarang dipakai.
Memakai jasa transportasi hanya menuntut pembayaran ketika benar-benar bepergian, tanpa urusan perawatan sama sekali. Serverless bekerja dengan prinsip yang sama, karena biaya dan sumber daya hanya muncul saat kode dijalankan, bukan saat menganggur.
Konsep Dasar Serverless Computing
Empat pokok berikut menjelaskan cara kerjanya.
1. Kode Berjalan Berdasarkan Pemicu
Fungsi dalam model serverless berjalan ketika ada peristiwa yang memicunya, contohnya permintaan masuk atau data baru yang tersimpan. Di luar pemicu itu, fungsinya tidak berjalan dan tidak menghabiskan sumber daya. Cara kerja ini membuat pemakaiannya efisien untuk beban yang tidak menentu. Tidak ada biaya yang berjalan ketika fungsinya sedang tidak dipanggil.
2. Penskalaan Berjalan Otomatis
Ketika permintaan melonjak, penyedia layanan otomatis menambah jumlah salinan fungsi untuk melayaninya, lalu menguranginya kembali setelah reda. Tim tidak perlu menyiapkan kapasitas cadangan secara manual. Kemampuan ini cocok untuk layanan yang lalu lintasnya sulit diprediksi. Lonjakan mendadak pun bisa ditangani tanpa penyiapan kapasitas di awal.
3. Beda Serverless dan Server Tradisional
Dua pendekatan ini kerap dibandingkan. Server tradisional menuntut penyediaan dan perawatan sepanjang waktu, sedangkan serverless hanya aktif saat kode dijalankan. Perbedaan ini berpengaruh langsung pada biaya, terutama untuk beban kerja yang naik turun.
4. Serverless Tidak Cocok untuk Semua Kasus
Model ini paling menguntungkan untuk beban yang bersifat sesekali atau berfluktuasi. Untuk layanan yang berjalan padat sepanjang waktu, server tradisional justru bisa lebih hemat. Karena itu pemilihannya menuntut pertimbangan terhadap pola beban kerjanya. Perhitungan biaya sebaiknya dilakukan berdasarkan perkiraan pemakaian nyata.
Mengenal Jenis Layanan Serverless
Tiga kelompok berikut mencakup penerapan yang paling umum.
1. Function as a Service
Kelompok ini menjalankan potongan kode kecil yang dipicu oleh peristiwa tertentu, tanpa perlu server yang berjalan terus. Cocok untuk tugas ringkas seperti pengiriman notifikasi atau pengolahan berkas yang baru diunggah. Bagian inilah yang paling sering dimaksud ketika orang menyebut serverless. Setiap fungsi umumnya dirancang untuk satu tugas kecil yang spesifik.
2. Basis Data Terkelola
Kelompok ini menyediakan layanan penyimpanan data yang penskalaan dan perawatannya diurus penyedia layanan. Pengembang cukup menyimpan dan membaca data tanpa mengatur servernya. Pilihan ini melengkapi fungsi serverless yang membutuhkan tempat menyimpan data.
3. Layanan Pendukung Siap Pakai
Kelompok ini mencakup layanan seperti autentikasi akun dan penyimpanan berkas yang tinggal dipakai tanpa membangunnya sendiri. Pemakaiannya memangkas waktu pengembangan bagi tim kecil. Penerapannya banyak ditemui pada aplikasi startup tahap awal.
Langkah Belajar Serverless untuk Pemula
Susunan berikut menempatkan dasar sebelum konsep lanjutan.
1. Kuasai Dasar Pemrograman Lebih Dulu
Pahami logika pemrograman, fungsi, dan konsep async karena fungsi serverless berjalan berdasarkan peristiwa. Bekal ini membuat konsep pemicu terasa lebih masuk akal.
2. Pelajari Cara Kerja REST API
Sebagian besar fungsi serverless dipicu lewat permintaan API, sehingga memahami alur permintaan dan tanggapan menjadi bekal penting. Kemampuan ini menghubungkan fungsi dengan aplikasi yang memakainya.
3. Pahami Interaksi dengan Basis Data
Pelajari cara menyimpan dan membaca data, sebab hampir semua fungsi membutuhkan penyimpanan. Pemahaman ini menjelaskan dari mana data yang diolah fungsi sebenarnya berasal.
4. Coba Bangun Fungsi Sederhana
Buat satu fungsi kecil yang dipicu oleh permintaan lalu mengembalikan data. Percobaan seperti ini memperlihatkan cara kerja model serverless secara langsung.
5. Kembangkan Menjadi Layanan Kecil
Gabungkan beberapa fungsi menjadi satu layanan sederhana yang bisa diakses. Latihan ini memperlihatkan bagaimana potongan-potongan fungsi bekerja bersama.
Memahami dasar pemrograman dan API lebih dulu membuat konsep serverless jauh lebih mudah dicerna.
Belajar Back End Lebih Terarah Bersama ITBOX
Pergeseran cara membangun layanan digital membuat pemahaman tentang sisi server tetap dibutuhkan, sebab serverless pun berdiri di atas konsep dasar yang sama. Menguasai fondasi back end karena itu menjadi bekal yang berguna lintas pendekatan.
Bagi yang ingin membangun dasarnya secara berurutan, kursus back end web developer dari ITBOX bisa dijadikan langkah awal. Materinya bergerak dari dasar algoritma pemrograman, pengenalan JavaScript beserta kondisi, perulangan, larik, fungsi, dan objek, dasar async berupa callback, promise, dan async await, fundamental basis data mencakup SQL dan pembuatan ERD, sampai pembangunan REST API memakai Express.js dengan studi kasus berupa aplikasi pencatat tugas. Kelas ini dibimbing Mentor David, programmer aktif di industri, telah diikuti 775 peserta, dan dilengkapi modul berbahasa Indonesia, akses materi seumur hidup, sertifikat penyelesaian, forum diskusi, serta sesi konsultasi bulanan.
FAQ Seputar Serverless Computing
Beberapa pertanyaan berikut paling sering muncul dari kalangan yang baru mengenal topik ini.
1. Apa Itu Serverless dalam Bahasa Sederhana?
Serverless adalah model menjalankan kode di mana pengelolaan servernya diurus penyedia layanan, sehingga pengembang cukup fokus pada logika aplikasinya.
2. Apakah Serverless Benar-Benar Tanpa Server?
Tidak, servernya tetap ada dan bekerja di balik layar, hanya saja penyediaan dan perawatannya diambil alih penyedia layanan.
3. Apa Perbedaan Serverless dan Server Tradisional?
Server tradisional berjalan dan dirawat sepanjang waktu, sedangkan serverless hanya aktif dan menghabiskan sumber daya saat kode dijalankan.
4. Apakah Serverless Selalu Lebih Murah?
Tidak selalu, sebab untuk beban kerja yang berjalan padat sepanjang waktu, server tradisional justru bisa lebih hemat.
5. Apakah Harus Menguasai Back End sebelum Belajar Serverless?
Sebaiknya begitu, karena serverless berdiri di atas konsep dasar back end seperti fungsi, API, dan basis data.









