Perangkat lunak yang akan diluncurkan pastilah melewati pengujian terlebih dahulu. Hal tersebut wajib dilakukan untuk melihat apakah perangkat lunak tersebut sudah layak pakai ataukah masih ada evaluasi. Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk melakukan pengujian, salah satunya adalah Black Box Testing.
Black Box Testing adalah metode pengujian yang fungsionalitasnya diuji dari sudut pandang pengguna, tanpa mengetahui detail dan struktur internal dari perangkat lunak tersebut.Â
Siapa saja dapat melakukan pengujian ini, karena pengujiannya hanya untuk meninjau input dan output perangkat lunak.
Biasanya pengujian ini dilakukan pada akhir pembuatan perangkat lunak. Mengapa di akhir? Karena pengujian ini dilakukan untuk menemukan masalah atau bug, serta memastikan apakah sudah benar-benar siap digunakan.
Daftar Isi Artikel
ToggleTipe Black Box Testing
Ada tiga tipe black box testing yang bisa Anda lakukan, yaitu :
1. Functional Testing
Tipe yang pertama yaitu functional testing. Fungsional testing merupakan proses pengujian terhadap fungsi spesifik sebuah software. Pengujian ini dapat dilakukan untuk memastikan pengguna tidak bisa masuk tanpa suatu informasi yang diperlukan.
Contohnya yaitu : pengujian ini dilakukan untuk memastikan apakah pengguna software mampu melakukan login menggunakan password, email, dan usernamenya masing-masing. Tujuannya yaitu untuk menjaga keamanan program.
Functional testing berfokus dalam pengujian aspek terpenting dari sebuah software dan juga integrasi antara komponen-komponen utamanya. Namun jenis pengujian ini juga dapat dilakukan untuk menguji keseluruhan sistemnnya.
2. Non-Functional Testing
Jenis pengujian ini sangat penting untuk menguji aspek-aspek tambahan non fungsional. Non-functional testing dilakukan untuk melihat apakah software yang telah dirancang dapat beroperasi dengan baik, meskipun dalam perangkat atau sistem operasi yang berbeda-beda.
Perbedaan functional testing dan non-functional testing yaitu, functional testing menguji apakah software mampu menjalankan tugas atau perintah. nah non-functional testing dilakukan untuk mencari tahu bagaimana hal tersebut bisa dilakukan.
3. Regression Testing
Regression testing adalah pengujian yang dilakukan untuk melihat apakah terjadi regresi atau kemunduran pada versi software yang telah di-upgrade.
Dalam pengujian ini, pengecekan dilakukan untuk aspek fungsional dan nonfungsional.
Contoh aspek fungsional yang diuji pada regression testing yaitu suatu fitur tidak bekerja dengan baik di versi terbaru.
Sementara untuk aspek nonfungsional, yang diuji adalah performa yang melambat tersebut.
Teknik Black Box Testing
Ada beberapa teknik black box testing yang digunakan dalam pengujian perangkat lunak. Berikut penjelasannya :
1. All Pair Testing
Teknik ini digunakan untuk menguji semua kemungkinan kombinasi seluruh pasangan berdasarkan input parameternya.
All Pair Testing digunakan untuk menguji aplikasi yang menggunakan input kotak teks, kotak centang, dan sebagainya.
2. Equivalence Partitioning
Teknik ini bekerja dengan cara melakukan partition atau membagi data dari beberapa perangkat lunak menjadi beberapa partisi data.
Equivalence Partitioning dapat membagi data input menjadi 2 bagian. Nah, kedua bagian tersebut harus menunjukkan perilaku yang sama untuk menyatakan bahwa pengujian berhasil.
3. Boundary Value Analysis
Teknik ini fokus kepada boundary, yang artinya mencari error dari luar atau sisi dalam perangkat lunak. Biasanya teknik ini digunakan karena banyak aplikasi yang masih memiliki masalah pada nilai batas.
4. Cause-Effect Graph
Teknik pengujian Cause-Effect Graph menggunakan grafik sebagai pacuannya. Grafik ini menggambarkan hubungan antara penyebab error dan efeknya.
5. Fuzzing
Fuzzing berfokus untuk mencari bug dalam perangkat lunak dengan menggunakan injeksi data yang cacat atau tidak sempurna.
6. Decision Table Testing
Teknik ini cocok digunakan untuk menguji fungsi yang memiliki hubungan logis antara dua input atau lebih.
7. Use Case Testing
Teknik ini menggunakan pengujian fungsionalitas sistem dari perspektif pengguna. Use Case Testing akan menguji setiap fungsi perangkat lunak dengan cara menjalankan sistem dari tahap awal sampai akhir.
Kelebihan dan Kekurangan
Berikut kelebihan dan kekurangan yang dimiliki Black Box Testing :
1. Kelebihan
- Efektif untuk menguji aplikasi yang kompleks dan besar.
- Untuk melakukan Black Box Testing, tidak harus penguji yang ahli atau memilki keterampilan programming. Siapa saja bisa melakukan pengujian ini.
- Penguji dan pengembang dapat bekerja secara independen tanpa mengganggu kinerja satu sama lain.
- Dengan melakukan pengujian ini, kesalahan yang tersembunyi dalam kode internal sistem dapat langsung terdeteksi,
2. Kekurangan
- Black box testing tidak selengkap white box testing, yang dimana melibatkan pengujian kode internal.
- Jika yang melakukan pengujian tidak memiliki latar belakang programming atau bukan seorang ahli, bisa terjadi kesulitan dalam mendiagnosis kesalahan yang tak terdeteksi.
- Hal tersebut dapat memungkinkan programmer untuk melakukan kembali pengujian tersebut.
Cara Kerja Black Box Testing
Dalam cara kerja black box testing, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Perhatikan langkah-langkah berikut ini :
1. Pahami Kebutuhan
Sebelum melakukan black box testing, pahami kebutuhan dan juga spesifikasi perangkat lunak atau aplikasi apa yang hendak Anda uji. Jangan lupa untuk memahami aspek pendukung yang Anda inginkan dari perangkat lunak, seperti kinerja hingga fungsinya.
2. Penentuan Input
Setelah itu, tentukan terlebih dahulu input apa saja yang Anda inginkan dalam pengujian. Tujuannya yaitu untuk memastikan bahwa input yang ingin Anda uji dalam metode black box testing dapat melalui proses pengujian sesuai yang dikehendaki.
3. Penentuan Output
Selain input, Anda juga harus menentukan output yang Anda indingkan dalam pengujian metode black box testing. Dari penentuan ini, Anda bisa mendapatkan output sesuai yang dikehendaki.
4. Proses Penyeleksian Input
Di tahap ini, Anda perlu menerapkan test case atau skenario buatan untuk menguji input yang sudah dipilih sebelumnya.
Semisal Anda melakukan input yang salah, Anda dapat mengetahui hasil atau output yang diperoleh dari kesalahan input tersebut.
5. Tahap Pengujian
Dalam tahap pengujian, test case yang tadi telah ditentukan akan diuji berdasarkan input yang sudah ditentukan sebelumnya. Ini dapat digunakan sebagai alat uji apakah perangkat lunak tersebut dapat berjalan baik atau tidak.
6. Review dan Evaluasi
Tahap terakhir dalam pengujian black box testing yaitu meninjau ulang dan mengevaluasi hasil pengujian yang telah dilakukan. Hasil pengujian ini bisa berupa laporan atau catatan hasil pengujian.
Dari laporan tersebut, Anda bisa melihat apakah ada yang tidak sesuai dengan perangkat lunak yang diuji atau tidak.
Kesimpulan
Itulah pembahasan mengenai black box testing. Dapat dipahami bahwa black box testing bertujuan untuk menguji perangkat lunak dan mencari kesalahan sebelum software tersebut siap diluncurkan.
Pengujian ini juga dilakukan untuk mengamati hasil output dan input dari perangkat lunak, tanpa mengetahui struktur kode internalnya. Ada berbagai teknik yang dapat digunakan dalam melakukan pengujian ini.
Pengujian ini memiliki kelebihan, siapa saja dapat melakukan pengujian tanpa harus mengerti bahasa pemrograman atau ahli di bidang tersebut. Namun, kelemahannya yaitu ada peluang terjadinya kesalahan yang tidak terdeteksi pada bagian kode karena penguji tidak memeriksa kode.
Di ITBOX, Anda bisa belajar IT dengan skema pembelajaran fleksibel dan bimbingan Coach berpengalaman. Yuk, kunjungi itbox.id untuk info lebih lanjut.


